LumahPelu – Bangsa Indonesia dikenal dengan kebhinekaannya yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan beraneka ragam budaya serta adat istiadat. Hal ini merupakan kekayaan sekaligus sebagai aset bangsa, tetapi jika di kelola dengan baik maka hal ini sangat berdampak pada terjadinya disintegrasi bangsa atau terjadinya gesekan yang memicu terjadinya perpecahan antar masyarakat basudara. Dengan demikian maka pemerintah sangat memberikan perhatian serius dalam menjembatani program-program yang dapat mempersatukan berbagai kepelbagian perbedaan yang ada dalam masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Asisten 1 Setda, Zeth Selano saat mewakili Bupati menghadiri acara Panas Pela ke 13 antara Negeri Lumahpelu dengan Negeri Sohuwe, bertempat di Negeri Lumahpelu, senin 15 Juli 2019.

Lebih lanjut Selanno mengatakan, kita harus bangga sebagai anak Maluku karena memiliki hubungan kekerabatan yaitu pela dan gandong sebagai bagian dari warisan berharga moyang – moyang dan datuk – datuk kita yang mampu nenembus sekat – sekat perbedaan bangsa ini baik itu suku, agama, ras dan beraneka ragam budaya serta adat istiadat. Ikatan pela dan gandong adalah identitas orang Maluku yang khas, sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah tingkat keadaban yang tinggi dalam pertalian sejati hidup orang basudara, sebagaimana ungkapan leluhur katong samua, yaitu potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, sagu salempeng pata dua.

Panas pela bukan sekedar ekspresi seremonial secara adat semata juga event ini bukan saja memberikan pesan adat dan budaya bagi kita semua tetapi yang terpenting adalah memberikan pesan moral bagi kita akan pentingnya kebersamaan hidup orang basudara. Ikatan panas pela yang telah berakar sejak dahulu kala di dalam tatanan kehidupan masyarakat Maluku. Hal ini merupakan gambaran jelas begitu tingginya peradaban di Maluku yang menjunjung nilai etika dan kebersamaan serta persaudaraan.

Hubungan pela gandong yang dibangun di Maluku bukan saja berdasarkan ikatan budaya akan tetapi juga dibangun berdasarkan ikatan agama yang mampu menembus keanekaragaman suku dan agama yang ada di Maluku ini, dan merupakan bukti otentik budaya religius masyarakat Maluku untuk mempererat hubungan nilai – nilai persaudaraan dan kesakralan adat serta budaya. Pela Gandong janganlah berdistorsi dengan budaya asing. Oleh karena itu maka perlu kerja sama semua pihak dalam melestarikan adat pela gandong.

Panas pela sebagai pengikat semangat basudara generasi sekarang dan yang akan datang. Panas pela merupakan upaya revitalisasi kearifan lokal dimana setiap kebudayaan lokal merupakan bagian dari khazanah kebudayaan nusantara. Revitalisasi kearifan lokal dalam panas pela ini merupakan upaya kita untuk mentransformasikan nilai – nilai kearifan lokal, khususnya kesadaran hidup orang basudara dalam menghadapi dinamika masyarakat yang makin multikultural dewasa ini.

Kuatkanlah ikatan pela ini wahai saudara – saudaraku dari negeri Lumahpelu dan negeri Sohuwe atau samua basudara pela, gandong, yang ada di Kabupaten ini, aeperti janji para leluhur di Nunusaku, yaitu nunu pari hatu, hatu pari nunu ( persaudaraan atau persatuan itu laksana pohon beringin yang melingkari baty karang dan batu karang melingkari pohon beringin).

LEAVE A REPLY