Bencana gempa berkekuatan 6,8 SR yang melanda sebagian wilayah di provinsi Maluku pada Kamis pukul 6:46 WITA (26/09/2019) dan berpusat di kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Sagian Barat (Kab. SBB) menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka dan menyebabkan sejumlah kerusakan bangunan.

Gempa juga memicu arus pengungsian di hampir semua wilayah Kab. SBB terutama di wilayah pesisir pantai, sebagai respon masyarakat terhadap kekhawatiran akan adanya gelombang Tsunami paska terjadinya gempa tersebut.

Sehari setelah gempa atau tepatnya pada Jumat (27/09/2019), Bupati SBB Drs. Moh. Yasin Payapo, MSc melakukan kunjungan untuk melihat secara langsung, serta turut membantu menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang ada di posko pengungsian.

Adapun untuk sementara bantuan yang dapat disalurkan antara lain 80 karung Beras, 100 karton mie instan dan 50 kaleng ikan sarden kalengan. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati di posko pengungsian yang ada di Rindam Desa Waimital Kecamatan Kairatu.

Lokasi pengungsian Rindam di Kecamatan Kairatu Kab. SBB

Bupati saat dimintai keterangan menyampaikan pesan kepada masyarakat Kab. SBB yang terkena dampak bencana ini khususnya yang ada di posko-posko pengusian agar tetap waspada dan jangan panik.

“Jagalah selalu kebersihan dan kesehatan selama berada di pengungsian. Jangan lupa, makan dan minum serta beristirahat lah yang cukup dan teratur agar terhindar dari berbagai penyakit yang berpotensi menyerang kita”, Beliau menambahkan.

Terakhir beliau juga berpesan “Janganlah terlalu lama berada dipengusian dan segera kembali ke rumah masing-masing, karena selain sudah ada pemberitahuan dari BMKG bahwa gempa kemarin tidak berpotensi tsunami, terlalu lama hidup di pengungsian juga dapat menimbulkan banyak hal yang merugikan kita sendiri akibat keterbatasan fasilitas yang ada di sana”

Bupati SBB saat menyerahkan bantuan sementara berupa mie instan kepada korban gempa.

“Belum lagi rumah-rumah yang ditinggalkan tanpa penjagaan renta terhadap pencurian dan kebakaran. Perputaran roda ekonomi juga terhambat akibat mata pencaharian sehari-hari kita menjadi terganggu sehingga juga merugikan kita sendiri secara materi.”

“Kejadian ini mungkin memberi kita trauma tapi jangan sampai membuat kita mengabaikan hal-hal penting lain seperti kesehatan kita dan pendidikan anak-anak kita”.

LEAVE A REPLY