Tepat dua minggu sejak gempabumi besar dengan magnitudo 6.8 SR pada Kamis (26/09/2019) lalu di Kecamatan Kairatu, pada 10 Oktober 2019, pukul 13.39.44 WIT Kabupaten Seram Bagian Barat kembali dilanda gempabumi dengan skala magnitudo di atas 5 atau tepatnya 5,2 SR.

Gempabumi tektonik ini berdasarkan info dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memiliki titik pusat episenter yang terletak pada koordinat 3,57 LS dan 128,26 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 16 km arah Timur Laut Kota Ambon, Provinsi Maluku pada kedalaman 10 km.

Guncangan yang ditimbulkan gempa ini begitu terasa di beberapa kecamatan di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), antara lain dirasakan di kecamatan Kairatu, Kairatu Barat, Amalatu, Seram barat dan Huamual karena berada dekat dengan pusat gempa.

Hingga berita ini diturunkan belum diperoleh informasi adanya kerusakan yang ditimbulkan gempa ini di wilayah SBB. Namun gempa yang berlangsung selama beberapa detik ini, sempat menimbulkan kepanikan warga karena kekhawatiran akan adanya gelombang tsunami.

Tapi tak perlu khawatir karena dikutip dari siaran pers BMKG (http://www.bmkg.go.id/press-release/?p=gempabumi-tektonik-m-52-mengguncang-kota-ambon-tidak-berpotensi-tsunami&tag=press-release&lang=ID) sesaat setelah gempa terjadi mengatakan “Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi di wilayah Ambon ini, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan sesar mendatar (strike slip fault).”

“Guncangan gempabumi ini dirasakan di daerah Ambon V MMI (Getaran dirasakan hampir semua penduduk, orang banyak terbangun). Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempabumi tersebut. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI.”

“Hingga hari Kamis, 10 Oktober 2019 pukul 14.05 WIT, Hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 8 aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M=4,6.”

“Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yg membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali kedalam rumah.”

“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi (Instagram/Twitter @infoBMKG), website (www.bmkg.go.id), atau melalui Mobile Apps (iOS dan Android “Info BMKG”).”

LEAVE A REPLY