INAMOSOL : Gubernur Maluku mengapresi kegiatan panas pela Mansamanuey dan Yapiopatai yang digelar di desa rambatu kabupaten Seram Bagian Barat, pasalnya kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kita melakukan revitalisasi terhadap kearifan lokal, Hal ini dikatakannya dalam sambutannya yang dibacakan oleh staf ahli Gubernur Maluku bidang kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat, Ir. H. Halim Daties. Yang didampinggi oleh Bupati Seram Bagian Barat, Drs. M Yasin Payapo.M.Pd, Wakil Bupati Seram Bagian Barat Timotius Akerina,SE,M.Si, dan Anggota DPRD Provinsi Maluku Herman Hattu,SH.

“Panas pela merupakan modal  sosial dalam kebudayaan orang Maluku yang sangat berharga karena pela adalah sebuah gerakan perserikatan atau sistem persaudaraan antara seluruh penduduk antara dua atau lebih kampung atau negeri berdasarkan adat. Sebagai sebuah ikatan sosial atau sistim persaudaraan pela mampu melintasi batas-batas suku, sub suku dan agama dari tiap-tiap kampung yang berpela. Sebagaimana  panas pela mansamanuey dan Yapio Patai”.

Menurutnya ikatan pela merupakan identitas masyarakat Maluku yang khas, sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah tingkat keadaban yang tinggi dalam  pertalian sejati hidup orang basudara. Hal ini merupakan sebuah fase atau ungkapan yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan sejati yang telah dibangun oleh para leluhur, bukan saja bersifat ko-eksistensi tapi sudah berada pada level pro- eksistensi. Agar orang basudara dapat belajar untuk saling memahami, saling percaya, saling memiliki, saling mencintai, saling membanggakan, dan saling menghidupi.

Katanya pula, ada beberapa asas-asas hubungan orang basudara dalam ikatan pela yaitu; Pertama,  negeri-negeri yang berpela itu memiliki kewajiban untuk saling tolong menolong dan bekerjasama menghadapi suatu masalah atau musibah, apakah itu bencana alam, wabah penyakit, kelaparan pada musim paceklik atau perang untuk mempertahankan hak.

Kedua,  Tanpa diminta, maka negeri atau kampong yang berpela wajib memberikan bantuan kepada saudara pela yang hendak melaksanakan hajatan atau pekerjaan dan kepentingan atau kemaslahatan umum walaupun berbeda agama, seperti pembangunan gedung gereja, masjid, baeleo desa, pembangunan sekolah hingga pelantikan raja. Inilah yang disebut budaya badati atau kerja siwalima.

Ketiga, ketika mengunjungi kampong saudara pela, maka saudara pela dikampung atau negeri wajib untuk memberi makan kepadanya, ketikamelihat buah-buahan yang sedang berbuah dan sudah matang dan memintanya, maka secara otomatis pela dinegeri langsung mengambil untuk saduara pela.

Karena dalam kesadaran kosmologi orang basudara memberi adalah wujud ungkapan kasih saying yang sangat dalam, yang dicerminkan dalam ungkapan saudara tuang hati jantong.

Keempat, semua penduduk negeri-negeri yang berhubungan pela tidak boleh kawin. Tiap pelanggaran dalam aturan tersebut akan mendapatkan kutukan dan dihukum sesuai aturan adat. larangan pernikahan dengan pela secara kontekstual dapat dipahami bahwa, pernikahan itu akan berakhir dengan konflik rumah tangga hingga perceraian yang bias merusak hubungan pela.  Jelas Gubernur.

LEAVE A REPLY