Piru – Masyarakat Kabupaten Seram Bagian Barat mempunyai keragaman latar belakang, suku/sub suku, agama, ras dan golongan yang tercermin dari ikatan – ikatan asosiatif berbasis identitas asal. Meskipun perbedaan identitas asal antara kelompok mewarnai struktur sosial masyarakat yang mengandung potensi benturan nilai, namun kearifan lokal yang lahir dari pengalaman dinamika interaksi sosial lintas perbedaan telah menghasilkan mekanisme sosial kultural yang memungkinkan potensi benturan dimaksud dapat diminimalisasi.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati SBB, Timotius Akerina, SE, MSi saat membuka Diskusi Identitas Ke-Maluku-an  yang digelar oleh Lembaga Kebudayaan Provinsi Maluku di ruang rapat Kantor Bupati lt 2. Diskusi ini digelar untuk memberikan persepsi dan kesamaan gerak dalam mempersiapkan Kabupaten Seram Bagian Barat sebagai tuan rumah penyelenggara Kongres Kebudayaan Maluku ke – 4 tahun 2020 mendatang.

Mengingat pentingnya stabilitas sosial dan keamanan bagi kepentingan pembangunan. Maka membangun identitas ke – maluku – an semestinya menjadi sebuah kebijakan publik yang di dorong melalui instrumen pembangunan. Gagasan ini memerlukan nilai – nilai bersama sebagai nilai kultural yang berasal dari berbagai identitas yang ada, hidup dan berkembang di Kabupaten Seram Bagian Barat. Nilai – nilai bersama seperti yang terkandung di dalam Saka Mese Nusa dan Wemale Alune misalnya, merupakan nilai fungsional dalam wilayah kultural bersama, tempat dimana identitas kultural Maluku bisa bertumbuh dan menjadi pengikat lintas perbedaan identitas asal yang ada di Kabupaten ini. Papar Akerina.

Kegiatan diskusi identitas ke-maluku-an pada prinsipnya bertujuan untuk ; 1) Melakukan konsolidasi sosio – kultural sebagai subetnik dalam lingkungan Kabupaten Seram Bagian Barat untuk merespon dinamika perubahan yang semakin pesat dan kompleks dalam aspek – aspek kehidupan masyarakat yang berciri multikultur -polientik, agar potensi kebudayaan yang bermakna majemuk dapat digalang dan dimobilisasi sebagai kekuatan pemersatu yang fungsional bagi kepentingan pembangunan daerah dan masyarakat.

2) Menambah khasanah dan kekayaan pengetahuan peserta sekaligus mendorong sikap apresiatif dan saling menghormati dalam realitas kehidupan bersama yang berbhineka sebagai orang basudara. 3) Menemukan ide dan bahasa pemikiran yang strategis guna mendukung pembangunan daerah berbasis potensi lokal, sehingga masyarakat dapat terus dan tetap berkembang di atas landasan moral serta etika yang bersumber dari nilai -nilai budaya Saka Mese Nusa dan budaya kemalukuan.

 

LEAVE A REPLY