Memasuki bulan Ramadhan, menjaga pola makan penting diperhatikan. Menurut Direktur Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Eni Gustina, buah-buahan manis baik menjadi pilihan tepat untuk dijadikan menu utama saat berbuka puasa.

Sebelum makan buah, awali proses berbuka puasa dengan air putih hangat.

“Lalu, kami dari ahli kesehatan menyarankan buah-buahan segar yang manis (tidak asam). Secara agama juga kan dianjurkan kurma ya. Kurma itu mengandung karbohidrat dan energi,” ujar Eni.

Selain kurma, semangka, Apel, juga bisa dijadikan alternatif. Buah semangka terkenal dengan kandungan airnya yang banyak, serta semangka juga kaya akan antioksidan, vitamin, dan mineral. Karena kandungan airnya, buah ini cocok untuk digunakan sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa, berhubung saat puasa tubuh kita cenderung mengalami dehidrasi karena asupan air yang berkurang selama beraktivitas. Semangka memiliki kandungan air dan elektrolit sebanyak 92% sehingga dapat membantu tubuh mendapatkan kembali cairan dan elektrolit yang hilang selama berpuasa. Semangka juga termasuk jenis buah yang mudah dicerna. Meski kandungan air pada apel tidak sebanyak semangka, tetapi apel memiliki kandungan serat yang cukup tinggi yang juga berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh selama puasa, buah apel dapat membantu sistem pencernaan Anda perlahan-lahan menyiapkan organ-organnya untuk menerima makanan yang lebih kompleks.

Selain itu, tidak disarankan berbuka langsung dengan porsi makan yang banyak. Hal ini dilalukan agar sistem pencernaan mampu melakukan penyesuaian setelah seharian diistirahatkan atau tidak mengonsumsi makanan.

Lebih lanjut Ia menjelaskan, saat puasa, lambung kosong selama belasan jam, sehingga ketika diisi jangan langsung banyak. “Setelah buka puasa, kita shalat, tarawih. Nah, habis tarawih itu dilanjutkan makan dengan porsi piring makanku, banyak sayuran seperti biasa,” tuturnya.

Ia mengatakan, tidak ada larangan untuk makan malam setelah shalat tarawih. Hal ini ditegaskan Eni menanggapi kekhawatiran dari para remaja putri akan menjadi gemuk bila makan malam setelah shalat tarawih.

Menurut beliau, makan malam setelah shalat tarawih sangat boleh karena kita seharian sudah puasa. Kadang remaja putri yang sering berpikir begitu, habis shalat tarawih tidak usah makan malam karena takut gemuk. Itu salah, kita akan kekurangan energi. Porsinya yang mesti kita ubah, harus kita perhatikan sayurnya harus lebih banyak. Akan tetapi Makan harus 40 persen dari jumlah kalori harian.

Untuk itu, Ia menekankan pentingnya memahami dan menerapkan porsi piring makanku dengan menu yang bergizi seimbang dan membiasakan pola makan tersebut di keseharian.

Penting diperhatikan adalah setelah makan malam jangan langsung tidur. Jeda waktu tersebut dapat diisi dengan kegiatan atau ibadah lainnya. Namun, Ia juga berpesan untuk tidak tidur terlalu malam agar cukup istirahat dan tetap tepat waktu bangun untuk sahur kembali pada dini hari.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

LEAVE A REPLY