PIRU-Ikut memeriahkan Hari Ulang Tahun Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-84 tahun, Klasis Seram Barat menggelar Karnaval Kendaraan Hias yang mengangkat isu sampah dan daur ulangnya sebagai tema sentral kegiatannya pada Rabu (11/09/2019).

Kegiatan yang dimeriahkan oleh Jemaat Gereja yang ada dalam lingkup Klasis Seram Barat serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Seram Bagian Barat selaku undangan ini mengambil titik start mulai dari jalan Mata Empat desa Eti kemudian menyusuri jalan raya utama kota Piru hingga finish di depan Gereja Elohim.

Sesuai tema yang diangkat, maka setiap peserta karnaval diminta oleh Panitia mendandani kendaraan hiasnya dengan aneka sampah, baik organik maupun non organik yang sudah di daur ulang menjadi beragam benda yang memiliki fungsi baru. Ada bunga plastik, boneka, vas bunga dan sebagainya.

Bahkan sebagian peserta dengan ide dan kreativitasnya menggunakan sampah daur ulang ini sebagai bahan dasar pembuatan kostum karnaval yang mereka kenakan saat berada di atas kendaraan hias, sehingga ikut menambah warna dan kemeriahan acara ini.

Para peserta karnaval yang mengenakan Pakaian yang berbahan baku sampah hasil daur ulang.

Max Salenusa sebagai salah satu peserta, saat dimintai tanggapannya mengatakan, “Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, pada tahun 2050 nanti diperkirakan volume sampah di laut akan lebih banyak daripada sampah yang ada di darat. Ini menunjukkan Indonesia sudah tergolong darurat sampah, maka ke depannya diperlukan terobosan-terobosan dan kerjasama dari setiap elemen masyarakat untuk turut bekerja mengatasinya”.

Duta sampah Jemaat Morekau berpose di depan kendaraan hias.

“Dengan adanya kegiatan ini menurut saya, sangat bermanfaat sebagai sarana edukasi dan sosialisasi kepada Jemaat dan masyarakat pada umumnya, mengenai dampak buruk dari masalah sampah tadi yang jika tidak ditangani dengan tepat akan berdampak buruk bagi kehidupan mereka,” sambung Salenusa.

Terakhir beliau menambahkan “lewat event ini juga memberi pencerahan bagi masyarakat tentang ide atau cara yang bisa dilakukan untuk menanggulangi sampah dengan baik, salah satunya melalui proses daur ulang yang benar sehingga dapat memberi manfaat, baik itu dari segi kebersihan, ekonomi maupun estetika lingkungan”.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup SBB Drs. Leonard Kakisina, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika SBB Abdul Rahman, S.T, Ketua Klasis Seram Barat Pdt. Ny. R. M. Haliwela, ketua GAMKI Godlief Eugine C. S.Pi dan para Jemaat yang ada di Seram Barat.

Ketua Klasis saat diwawancarai boleh media ini mengatakan, “Karnaval ini merupakan kegiatan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari salah satu program Klasis yaitu pengolahan daur sampah. Isu lingkungan merupakan salah satu isu dari 13 (tiga belas) isu yang ada di GPM. Karena itu Gereja secara sadar memahami bahwa memelihara lingkungan adalah tanggungjawab Gereja oleh karenanya kami menggagasnya dalam berbagai program di tingkat Klasis.”

Ketua Klasis Seram Barat saat di wawancarai media ini.

“Program tersebut antara lain, penanaman pohon, kebersihan lingkungan baik di tingkat Klasis maupun Jemaat melalui kegiatan Kalesang negeri, Sabtu bersih dan sebagainya. Untuk tahun ini kita fokus pada proses penanganan sampah melalui proses daur ulang salah satu dengan melaksanakan karnaval ini”, sambung Beliau.

Haliwela menambahkan, “Dalam pelaksanaan kegiatan ini kami bekerjasama dengan pihak terkait dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup SBB, kerena kami sadar Gereja tidak dapat bekerja sendiri sehingga butuh topangan dari berbagai pihak untuk mengatasi masalah lingkungan terutama persoalan sampah cukup banyak di jemaat-jemaat terutama di kota kabupaten Piru ini”.

“Dengan kegiatan karnaval dan juga program daur sampah ini selain dapat meminimalkan jumlah sampah-sampah yang justru sering menjadi penyebab dari banyaknya masalah lingkungan yang dihadapi, juga dapat dikreasikan menjadi barang-barang yang punya nilai ekonomis sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga didalam Jemaat”, tutur Haniwela.

Menutup wawancara ini Haniwela berharap “Isu lingkungan terutama sampah ini, merupakan isu yang universal sehingga tidak mengenal batasan-batasan baik itu budaya, suku, ras apalagi agama, sehingga melalui karnaval ini kami berharap akan tumbuh rasa kebersamaan dan toleransi antar sesama manusia untuk saling bekerjasama mengatasi berbagai masalah lingkungan ini”.

LEAVE A REPLY