Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), selama ini dikenal masyarakat sebagai tempat bagi orang-orang yang bermental preman, perampok, pembunuh, dan sarang gembong narkoba. Akan tetapi, tanggapan negatif masyarakat tentang Lapas itu ternyata keliru. Hal ini dibuktikan dengan tinjauan wartawan Radar Pagi. Com dan Teras Maluku.com di Lapas kelas II B Piru pada Senin, 14/10/2019.

Kepada wartawan, kepala Lapas kelas II B Piru Saiful Sahri, AMd. Ip. SH. MH mengatakan ” semua warga binaan yang masuk kesini kita perlakukan sebagai teman, bukan musuh. Selama berada disini, mereka dibina agar ketika kembali kemasyarakat nanti bisa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitar “, katanya.

Dirinya menambahkan, ” pihak lapas klas II Bpiru lebih kepada bimbingan mental setiap warga binaan, Karena bagi Lapas setiap manusia tidak ada yang sempurna dan pasti tidak akan luput dari kesalahan. ” Untuk itu, hati mereka harus kita bina betul, agar kesalahan yang sudah mereka lakukan tidak akan dilkukan lagi setelah kembali nanti “, tambahnya.

Para warga binaan yang ada di Lapas kelas II B Piru berjumlah 150 orang, kalau dibandingkan dengan kapasitas ruangan untuk menampung warga binaan, masih kurang apalagi Lapas kelas II B Piru termasuk Lapas penyangga dari Lapas Ambon. ” Kapasitas ruang tampung bagi warga binaan masih kurang kalau dibamdingkan dengan jumlah warga binaan saat ini, apalagi Lapas Piru merupakan salah satu Lapas penyangga bagi Lapas Ambon “, lanjutnya.

Selama berada di Lapas, mereka diajarkan dengan berbagai ketrampilan, misalnya ketrampilan merangkai nyiru, membuat vas bunga, meubeler, perbengkelan, berkebun sayur dan lainnya ,Semua hasil kreasi dan hasil pertanian itu dijual langsung ke pasaran yang ada dikota piru dan sekitarnya, dan hasil dari penjualan itu dibagi dua antara Lapas dan warga binaan itu sendiri.

Wawan, salah satu warga binaan Lapas kelas IIPiru mengatakan ” awal saya masuk kesini(Lapas), tidak ada yang saya ketahui dan lakukan, tapi setelah kami diberikan pelatihan selama 8 hari akhirnya saya dan teman-teman bisa membuat tirai yang bahan dasarnya dari bambu “, ungkap wawan.

Di tambahkan oleh rusli kosso warga binaan lapas piru yang mengatakan selama di lapas kurang lebih 10 bulan suda bisa menghasilan uang lewat sayur dan jagung yang ia bersama rekan-rekannya tanam di lapas piru, bahkan uang dari hasil tanamannya pun juga di berikan buat istri , anaknya di rumah dan di tabung du rekeneng .” Alhamdulilah selama di Lapas Piru kita(Katong) di bina dan di ajar untuk bisa kretif di berbagai bidang, saya dan rekan-rekan ada yang di pertanain dan hari ini kami lagi membersihan rumout dari jaging yang kita tanah kurang leih 1000 anakan, sayur kacang panjang, dan lainnya, kita paneng bisa sampai 150 Kg untuk sayur kacang panjang.,” ujarnya Kosso.

Kondisi lapas kelas II Piru masih memiliki banyak kekurangan ” soal kekurangan, sudah pasti ada. Yang sangat kami butuhkan adalah fasilitas CCTV agar kami dapat memantau setiap pergerakan warga binaan. Untuk itu, saya berharap kepada Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia agar dapat melihat kekurangan yang ada di Lapas kelas II B Piru ” harap Saipul.

LEAVE A REPLY