PELUANG USAHA PISANG ABACA

0
69

PIRU.  Tanaman abaca (Musa Textilis Nee) termasuk dalam pisang (Musacease) yang dikategorikan sebagai pisang jantan, karena pisang ini, tidak menghasilkan buah. Produksi utama dari budidaya tanaman pisang ini adalah berupa serat (fibre) yang terkenal dalam perdagangan internasional sebagai serat berkualitas tinggi, sebab serat pisang abaca ini tahan terhadap air garam sehingga banyak digunakan sebagai pembungkus kabel bawah laut atau tali temali pada kapal. Namun belakangan ini serat pisang abaca (untuk selanjutnya disebut sebagai serat abaca) juga banyak di gunakan untuk bahan baku pulp kertas bermutu tinggi seperti kertas uang, cek, kertas filter dan kertas pembungkus.

Pisang abaca telah lama terdapat di Indonesia, antara lain diketahui di pulau Sangir (Sulawesi Utara) yang tumbuh secara liar. Sebagaimana di Filipina (tempat asal pisang abaca), penduduk Sangir memanfaatkan serat abaca (atau kafe, menurut bahasa setempat ) untuk bahan kain tenun tradisional. Peluang pengembangan perkebunan pisang abaca pada saat ini semakin terbuka dengan semakin potensialnya pasaran internasional, terutama untuk memenuhi permintaan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Potensi pasar internasional tercatat sebesar 600.000 ton serat abaca per tahun. Untuk memenuhi potensial demand tersebut, Filipina adalah produsen utama dengan share sebesar 80.000 ton dan diikuti Equador sebesar 10.000 ton . Dengan demikian, permintaan pasar masih belum terpenuhi, sehingga pengembangan pisang abaca di Indonesia masih sangat terbuka, apalagi sumber daya alamnya sangat mendukung.

Ditambah lagi masih banyaknya lahan tidur di Indonesia yang belum termanfaatkan, sekitar 72 juta hektar lahan tidur masih menganggur dan pemerintah berupaya untuk menghidupkan lahan tersebut agar menjadi produktif. Diharapkan anantinya akan menjadi sumber bagi pergerakan roda ekonomi bagi wilayah sekitarnya. Dengan adanya sumber lahan yang luas tentunya hal ini dapat menunjang dalam membuka bisnis di sektor agro, terutama bisnis serat pisang abaca ini.

Selain itu dengan adanya sektor industri padat karya ini akan dapat menampung tenaga kerja dan menyerap usia produktif yang banyak kehilangan lapangan kerja disektor pertanian, setelah lahan pertanian tergerus dan beralih fungsi menjadi perumahan, pusat bisnis dan juga tentunya kawasan industri. Masyarakat pertanian yang notabene hidupnya bergantung pada pertanian tentunya akan sangat sulit bersaing dalam merebut posisi di sektor industri, dengan terciptanya industri agrobisnis ini tentunya dapat memberikan angin segar bagi masyarakat pertanian dimana mereka dapat tertampung dan bekerja di bisnis ini.

Dan secara agronomis penanaman pisang abaca di Indonesia sangat sesuai, mengingat tanaman pisang abaca adalah tanaman yang berasal dari daerah tropis. Selain itu pisang ini sudah pernah dikembangkan secara komersial dalam areal yang besar. Sesuai dengan tuntutan perkembangan orientasi pasar internasional, maka pengembangan perkebunan pisang abaca sebaiknya di kembang dengan teknologi modern. Demikian pula halnya untuk pengolahan pasca panen, lebih diarahkan pada pengolahan melalui pabrik dengan teknologi modern pula. Sehingga kualitas produksi benar-benar bermutu tinggi sehingga mampu bersaing secara ketat di pasar internasional.

Ditinjau dari harga jual serat pisang abaca ini sungguh sangat fantastis, harga acuan sekitar Rp. 2.500.000 per kg (tentalife). Dilihat dari segi harga di pasaran tentunya hal ini menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk membuka bisnis perkebunan pisang abaca, tetapi tentunya dibutuhkan pengetahuan yang dalam sebelum memutuskan untuk terjun dalam bisnis ini. Selain memerlukan pengetahuan yang lumayan banyak juga dibutuhkan modal investasi serta modal kerja yang tidak sedikit, rencana bisnis harus ditopang dengan riset dan study kelayakan bisnis. Sebaiknya sebelum terjun dalam bisnis ini, lakukan riset kecil dengan mencari sumber melalui pustaka, data statistik dan ke instansi terkait yaitu pertanian & perkebunan serta ke perindustrian, hal ini akan memberikan pengetahuan yang benar akan peluang sebuah bisnis, peran data sangat penting dalam segala hal.

Tanaman pisang abaca sangat baik di budidayakan pada tanah-tanah vulkanik atau alluvial dengan tekstur lempung, lempung berpasir, atau lempung liat berdebu. Tanah tersebut hendaknya berstruktur longgar (gembur) sehingga mudah menghisap atau melepaskan air. Keasaman tanah berkisar antara 4 – 6 dan pH optimal adalah 6 – 7. Kedalaman tanah (solum) minimal 50 cm. Secara lebih spesifik persyaratan tumbuh lainnya adalah sebagai berikut :

1. Tanah
Walaupun pisang abaca dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tetapi akan lebih baik pertumbuhannya bila di tanam pada struktur tanah yang gembur atau struktur tanah yang remah dan tidak di tanam di tanah yang padas, dan pH tanah yang di kehendaki berkisar 4,5 – 7,5
2. Ketinggian
Umumnya tanaman pisang abaca lebih menyukai dataran rendah yang beriklim lembah, ketinggian yang dikehendaki 300 m di atas permukaan air laut. Akan tetapi ia juga mampu hidup sampai ketinggian 1000 m diatar permukaan air laut, namun pada ketinggian tersebut hasil seratnya akan berkurang.
3. Iklim
Tanaman pisang abaca dapat hidup di daerah tropis sampai sub tropis. Suhu yang dikehendaki untuk tumbuh dengan normal antara 17oC – 30oC.
4. Curah hujan.
Untuk tumbuh normal, tanaman pisang abaca memerlukan curah hujan yang normal minimal 2.000 mm/tahun tetapi tidak menutup kemungkinan di bawah 2.000 mm/tahun, asalkan di adakan pengairan yang teratur karena tanaman pisang abaca membutuhkan air yang cukup. Pengairan di sesuaikan kondisi kelembaban tanah kering/basah.
5. Kelerangan
Kelerengan yang dikehendaki tanaman pisang abaca berkisar antara 15 – 25%. Kelerengan di atas 25% juga dapat dimanfaatkan asalkan di buat terasering untuk memudahkan pemeliharaan dan menghindari erosi tanah.

Bahan tanaman dapat berupa anakan, bonggol utuh atau bonggol yang dipotong-potong. Sedangkan varietas yang digunakan antara lain varietas bontolanon, manguindanao, dan tangengong. Ketiga varietas ini berasal dari Filipina, tetapi telah masuk dan di budidayakan di Indonesia.
(sumber : berbagai sumber)

LEAVE A REPLY