Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) Maluku, mengharapkan adanya peningkatan sejumlah ruas jalan yang berstatus provinsi menjadi jalan nasional guna meningkatkan ekonomi masyarakat.

“Tingkat kemiskinan sebesar 24,63 persen di Kabupaten SBB bisa dikurangi dengan membuka akses jalan, sehingga berbagai komoditas milik petani dan nelayan bisa dipasarkan secara baik,” kata Wakil Bupati SBB, Muhammad Husni di Ambon, Jumat (18/9).

Dia mencontohkan daerah Huamual Belakang yang banyak hasil ikannya, tapi tidak bisa dipasarkan secara maksimal karena akses jalan terbatas.

Mereka hanya bisa membawanya ke Kota Ambon lewat jalan laut, karena ruas jalan menuju Piru, Ibu Kota Kabupaten SBB kurang memungkinkan, jaraknya cukup jauh dan memerlukan biaya tinggi.

Sehingga dalam rapat musyawarah rencana pembangunan, Kata Muhammad Husni, pihaknya telah mengusulkan peningkatan status jalan provinsi menjadi jalan nasional seperti Piru-Luhu, Piru-Waisala, serta Kairatu-Hunitetu.

Berbagai ruas jalan ini ada yang sudah rusak dan harus diaspal, namun lebih efektif bila status jalannya ditingkatkan agar mendapat dukungan anggaran dari pusat.

Khusus untuk program ketahanan pangan, kata Muhammad Husni, dalam rapat regional kawasan timur dari sembilan provinsi telah melahirkan kesepakatan para bupati/wali kota se-Indonesia bagaimana harus mewujudkan swasembada pangan dan gizi setiap daerah.

SBB sebagai salah satu daerah yang wilayahnya juga memiliki masyarakat petani dan nelayan, berkomitmen untuk mewujudkan program ketahanan pangan sesuai program Presiden Jokowi tentang kedaulatan pangan di daerah.

“Kami mengapresiasi peninjauan 300 peserta konsultasi nasional operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air karena daerah irigasi Kairatu I ini mengairi 600 hektare sawah dengan menghasilkan sekitar 5,6 ton gabah kering giling per hektare dan sekitar tiga ton beras,” ujarnya.

Sehingga program perawatan irigasi ini harus didorong dan orang di hulu sungai jangan melakukan penebangan di daerah resapan dan bagian hilir menjaga saluran tidak tersumbat.

“Kalau tidak dirawat, kebutuhan beras kita bergantung dari daerah lain, disamping tetap memperhatikan aneka jenis pangan lokal yang ada,” katanya.

LEAVE A REPLY