Piru – Tema hari kebangkitan nasional yang ke 110 Tahun 2018 yakni “pembangunan sumber daya manusia memperkuat pondasi kebangkitan nasional Indonesia dalam era digital”,  harus dimaknai untuk mengembangkan diri dan merebut setiap peluang untuk meningkatkan kapasitas diri yang terbuka oleh berbagai pihak, baik oleh pemerintah, badan usaha, maupun masyarakat sendiri.  Pengembangan kapasitas sumber daya manusia juga arus diletakan dalam konteks pemerataan dalam pengertian  kewilayahan, agar bangsa ini bangkit secara bersama-sama dalam kerangka kebangsaan Indonesia.

Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia,  Rudiantara dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Mansur Tuharea, SH,MM  pada upacara memperingati Hari Kebangkitan Nasional Ke 110 Tahun 2018 di SBB

Lanjut Rudiantara mengutip perkataan Bung Karno mengenai persatuan bangsa seperti layaknya sapu lidi. Jika tidak diikat, maka lidi tersebut akan tercerai berai, tidak berguna dan mudah dipatahkan. Tetapi jikalau lidi-lidi itu digabungkan, diikat menjadi sapu, akan menjadi kuat. mana ada manusia bisa mematahkan sapu lidi yang sudah terikat.

Dimana, pada masa sekarang ini dari gambaran aktual bahwa ada kekuatan-kekuatan yang berusaha merenggangkan ikatan sapu lidi kita, kita disuguhi hasutan-hasutan yang membuat kita bertikai dan tanpa sadar mengiris ikatan yang sudah  puluhan tahun menyatukan segala perbedaan.

Padahal inilah masa yang sangat menentukan bagi kita, inilah era yang menuntut kita untuk tidak membuang  waktu demi mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. Momentum sekarang ini menuntut kita untuk tidak buang-buang energi untuk bertikai dan lebih focus pada pendidikan dan pengembangan manusia Indonesia.

Sebab bangsa Indonesia akan memasuki sebuah era keemasan dalam konsep kependudukan yaitu bonus demografi. Bonus demografi menyuguhkan potensi keuntungan bagi bangsa karena proporsi penduduk usia pproduktif lebih tinggi dibandingkan pendudukk usia non produktif.

Menurut perkiraan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa rentang masa ini akan berpuncak nanti pada tahun 2028 sampai 2031, yang berarti tinggal 10-13 Tahun lagi. Pada saat itu nanti, angka ketergantungan penduduk diperkirakan mencapai titik terendah yaitu 46,9 persen.

Proyek keuntungan bonus demografi itu akan tinggal menjadi proyeksi jika kita tidak dapat memaksimalkannya. Usia produktif hanya akan tinggal menjadi catatan tentang usia daripada catatan tentang produktivitas, jika mutu sumber daya manusia produktif pada tahun-tahun puncak bonus demografi tersebut tidak dapat mengungkit mesin pertumbuhan ekonomi.

Oleh sebab itu, bapak Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan selalu mendorong dunia pendidikan, bekerjasama dengan industri dan bisnis, untuk mencari terobosan-terobosan baru dalam pendidikan vokasi. Jurusan-jurusan baru, baik ditingkat pendidikan tinggi maupun juga tingkat menengah, yang berkaitan dengan keahlian dan ilmu terapan, harus selalu diciptakan untuk memasok industri akan tenaga terampil yang siap kerja.

Oleh sebab itu, mari bersama-sama kita jauhkan dunia digital dari anasir-anasir pemecah-belah dan konten-konten negative, agar anak-anak kita bebas berkreasi, bersilahturahmi, berekspresi, dan mendapatkan manfaat yang lebih besar bagi penguatan kapasitas dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

 

 

LEAVE A REPLY