BUANO-Gugusan Pulau Buano di kecamatan Waisala Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku, ternyata menyimpan potensi wisata alam yang luar biasa indahnya.

Wisata alam yang dimaksud adalah sebuah selat yang memisahkan Pulau Buano dan pulau Pua, pulau kecil yang terletak di sebelah Utara. Selat ini dinamai Selat Valentine oleh tentara Belanda tempo dulu karena jika dilihat sekilas dari ketinggian tertentu di pulau Buano, selat ini akan nampak berbentuk seperti sebuah hati.

Menurut cerita masyarakat setempat, pada zaman dahulu selat ini sering dijadikan tempat persembunyian bagi kapal-kapal Belanda dari kejaran kapal-kapal musuh.

Salah satu pantai tempat berlabuhnya kapal di dalam area Selat

Hal ini dimungkinkan karena bentuk geografisnya yang unik, dimana pulau Pua yang lebih kecil hampir sebagian besar pulaunya dikelilingi oleh Pulau Buano di sisi bagian selatan, timur dan berbelok ke utara, jadi disaat kapal berlabuh di sisi bagian dalam selat, maka posisi kapal tidak akan terlihat dari sisi bagian luar pulau Buano.

Penampakan Selat Valentine di Google Earth

Kondisi geografis ini juga mempengaruhi kondisi air dalam selat, jika arus air disekitar Pulau Buano yang biasanya dikenal masyarakat sering berarus dan bergelombang tidak demikian dengan keadaan air dalam selat ini. Arus yang tenang dengan gelombang yang hampir tidak ada membuat selat ini laksana sebuah danau air tawar. Sehingga buat mereka yang ingin berenang atau menyelam dan bermain wahana air seperti jet ski misalnya dapat dilakukan dengan nyaman di sini.

Pesona selat ini sendiri sesungguhnya terletak pada barisan gunung, perbukitan hijau serta tebing-tebing batu yang berdiri  kokoh memisahkan daratan dengan lautan disepanjang 7,14 km selat ini.

Dinding batu yang membentang di salah satu sisi Selat

Pintu masuk ke dalam selat yang terlihat laksana gerbang batu juga turut menambah dramatis dan romantisnya pemandangan dalam selat ini.

Untuk akses menuju ke lokasi ini, para pengunjung dapat berangkat dari Ibukota kabupaten Seram Bagian Barat yakni Kota Piru dengan menggunakan mobil menuju ke pelabuhan laut di Dusun Pelita Jaya, atau Dusun Masika Jaya, atau Desa Waisala maupun di Desa Soleh.

Dari sana pengunjung  kemudian dapat menggunakan kendaraan air sewaan seperti Speedboat atau perahu bermotor dengan kapasitas 6 hingga maksimal 15 orang untuk pulang pergi lokasi dengan biaya sewa 1 hingga 2 juta rupiah.

Perahu Speedboat yang biasa digunakan pengunjung di dalam Selat

Sekretaris Daerah Kabupaten Seram Bagian Barat Mansur Tuharea saat berkesempatan mengunjungi lokasi potensial ini tampak antusias memberikan komentarnya. “Kita akan kembangkan wilayah wisata ini yang juga merupakan salah satu prioritas Bupati Bapak Yasin Payapo yang meminta agar segera memetakan wilayah-wilayah potensial wisata seperti ini, dimana ada juga Pulau Osi, Pulau Kasuari, dan daerah Patinia agar bisa dilirik oleh investor untuk bisa dikembangkan secara profesional menjadi objek wisata andalan daerah ini ke depan”

Sekda SBB bersama Kadis Kominfo saat mengunjungi Selat Valentine

Dalam harapannya beliau menyampaikan “untuk masyarakat di sekitar lokasi ini nantinya saya harap dapat tetap memelihara dan menjaga melestarikan lingkungan dengan tidak membuang sampah ke laut atau juga mencemari laut dengan limbah-limbah rumah tangga.”

“Masyarakat juga kiranya turut berperan dalam mempromosikan dan memperkenalkan objek wisata ini kepada dunia luar melalui media sosial dan lainnya, karena kami pun akan terus berusaha melalui Dinas Parawisata, Dinas Kominfo dan Dinas terkait lainnya untuk memperkenalkan, mencari dan mempermudah investor luar agar mau berinvestasi disektor wisata ini” tutup Beliau.

LEAVE A REPLY