Piru-Perkembangan teknologi yang cepat saat ini telah berkontribusi besar dalam perubahan cara berkomunikasi, bertukar informasi dan berinteraksi antar manusia secara global, menjadi lebih efisien dan mudah.

Sebagai contoh kemudahan itu adalah cara kita bertukar kabar antar sanak-saudara yang dahulu masih menggunakan media surat-menyurat dan butuh waktu bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk mendapatkan balasannya, kini dapat dilakukan dalam sepersekian detik dan hampir bisa di mana saja asalkan punya Smartphone atau mobile phone dan tersedia jaringan telekomunikasi yang memadai.

Smartphone atau mobile phone sebagai media komunikasi, saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok dan jadi bagian dari gaya hidup sebagaian besar manusia di muka bumi ini.

Adanya aplikasi media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan sebagainya yang dengan mudah diakses melalui Smartphone tadi, membuka pintu interaksi yang lebih luas dan intens.

Disadari atau tidak, pintu komunikasi dan interaksi yang terbuka makin besar ini juga telah turut membuka celah bagi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan memiliki kepentingan tertentu untuk memproduksi dan kemudian menyebarkan informasi atau berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Umumnya tujuan mereka menyampaikan Informasi atau berita yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Hoax/Hoaks ini tentunya beragam. Dari mulai untuk mengaburkan fakta yang sebenarnya, membuat propaganda tertentu yang menguntungkan pihaknya atau bahkan hingga bertujuan untuk menimbulkan keresahan dan kekacauan sosial di masyarakat.

Hal ini tentunya berpotensi menimbulkan ancaman kejahatan yang serius dan bisa mengakibatkan tindakan yang dapat dikategorikan kriminal.

Melihat besarnya dampak negatif yang berpotensi timbul akibat Hoax/Hoaks ini maka Kepolisian Resor Seram Bagian Barat (POLRES SBB) laksanakan Focus Grup Discussion (FGD)

Dengan mengangkat Tema “Penegakan Hukum Bagi Penyebar Berita Hoax dan Penyalahgunaan Media Sosial di Kalangan Masyarakat Serta Cara Mengantisipasinya”. Kegiatan ini dimulai pukul 10.00 WITA pagi hingga selesai pada hari Sabtu (31/08/2019) bertempat di Ruang Data Posko OPS Polres SBB.

Turut Hadir dalam kegiatan ini antara lain Kesbangpol SBB H. S. Patty, Kadis Kominfo Abdul Rahman, ST yang juga hadir selaku pemateri mewakili Pemda SBB, Perwakilan Koramil Seram Barat, Kasat Binmas selaku moderator, Kasat Reskrim yang diwakili staf selaku pemateri mewakili Polres SBB, pihak media yang diwakili oleh ketua PWI dan pihak masyarakat yang diwakili dua desa di SBB yakni Hunitetu dan Kamariang.

Undangan dan peserta diskusi

Adapun Kasat Reskrim selaku pemateri pertama menyampaikan bahwa “Hoax/Hoaks dalam lima tahun terakhir menjadi tranding topik di berbagai media sosial yang ada di Indonesia. Dalam Kamus besar bahasa Indonesia Hoax/Hoaks diartikan sebagai Berita Bohong. Hoax/Hoaks bertumbuh kembang seiring dengan meningkatnya popularitas media sosial yang memungkinkan setiap orang menjadi Publisher atau Penyebar berita”.

“Ciri-ciri berita Hoax/Hoaks antara lain; 1. Sumber berita yang kurang bisa dipercaya

2. Foto maupun video dalam berita tersebut merupakan rekayasa atau tidak sesuai dengan isi berita

3. Mengandung unsur Politik, SARA dan Susila, dan

4. Menggunakan kalimat-kalimat provokatif.

Adapun cara untuk mengenali berita Hoax/Hoaks antara lain;
1. Lihat apakah ada kalimat seperti ini ‘kirimkan ini ke setiap orang yang anda kenal’, semakin mendesak permintaannya maka semakin mencurigakan pesan tersebut

2. Perhatikan isi berita dan bahasanya, jika ada yang menyinggung perasaan, mengutarakan kebencian atau menjelekkan pihak lain tanpa alasan yang jelas maka itu bisa dikategorikan sebagai Ujaran kebencian dan Hoax/Hoaks

3. Perhatikan sumber beritanya, karena biasanya Hoax/Hoaks tidak punya sumber berita yang bisa dibuktikan, terang pemateri”.

Kemudian Kadis Kominfo, A. Rahman, ST selaku pemateri kedua turut menambakan bahwa “untuk dampaknya sendiri dari berita Hoax/Hoaks antara lain bisa menimbulkan fitnah yang menyebabkan perselisihan, keributan, kebencian bahkan memicu konflik sosial di masyarakat.”

Kadis Kominfo saat memberikan materi.

“Adapun kiat untuk mengatasi Hoax/Hoaks ini dapat dilakukan dengan rajin membaca berita dari berbagai sumber yang resmi dan dihormati. Setiap berita yang kita baca atau dengar harus disikapi dengan kehati-hatian apakah beritanya benar atau tidak, agar kita punya keinginan untuk menyelidikinya dengan cara mencari sumber berita yang benar” ujar Rahman mengingatkan.

Beliau menambahkan, “untuk diketahui berdasarkan data dari Dewan Pers Situs atau Portal Berita di seluruh Indonesia ada sekitar 43 ribu Situs atau Portal dan yang terverifikasi resmi hanya sekitar 300 Situs atau Portal.”

Untuk itu beliau pun berharap “Sebagai masyarakat yang taat hukum maka sudah seharusnya kita semua waspada dan berhati-hati dalam menyikapi setiap berita yang beredar disekitar kita terutama yang bersifat provokatif dan mengandung kebencian. Selalu mengecek kebenaran dan sumber berita sebelum ikut membagikannya kepada orang lain baik melalui perbicangan maupun media sosial yang kita punya”

“Karena bagi mereka yang terbukti turut berperan dalam penyebaran berita mengandung Hoax/Hoaks dapat dikenakan hukum Positif atau hukum Pidana”, tutup beliau.

Untuk konsekuensi hukum terkait Hoax/Hoaks sendiri sudah diatur dalam Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) sebagaimana yang telah diubah oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Jika melanggar ketentuan Pasal 28 UU ITE ini dapat dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 45A ayat (1) UU 19 Tahun 2016, yaitu:

Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.

LEAVE A REPLY