Taniwel-Keberadaan banyak gua di Negeri Lisabata, tepatnya di Kecamatan Taniwel, Seram Bagian Barat, masih dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Belum banyaknya penelitian dan riset yang menyentuh kawasan karst tersebut, membuat potensi alam dan pemanfaatannya belum terpetakan. Mendapati hal itu, Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (Mahapeka) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, bertolak melakukan ekspedisi DI Taniwel.
Dalam ekspedisi Dwipantara bertema Studi Kawasan Karst dan Studi Etnografi Masyarakat Lokal Negeri Lisabata, peserta terdiri atas tiga mahasiswa. Antara lain Hazli “Ladeg” Al Fadli, mahasiswa jurusan Teknik Informatika, Ikhsan “Balot” Hambali dari jurusan Humas, dan Muhammad Zaky Ghifary dari jurusan Jurnalistik.

Program ini juga merupakan hasil kerja sama dengan Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M IAIN Ambon. Menurut Ketua Pusat Pengabdian kepada Masyarakat LP2M IAIN Ambon, Nurlaila Sopamena, M. Pd, terlibat juga para dosen dan mahasiswa IAIN Ambon dari berbagai program studi. Di antaranya Tadris IPA, Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Biologi, Hukum Pidana Islam, Sosiologi Agama, dan Pengembangan Masyarakat Islam serta tiga orang alumni IAIN Ambon.

“Selain mengaktualisasikan Tri Dharma Perguruan, kami juga akan melakukan penggalian peran perempuan terhadap pengelolaan dan pemanfaatan potensi sosial, budaya, serta lingkungan,” kata Ikhsan Hambali, ketua tim ekspedisi. Berdasarkan keterangan tertulis, para mahasiswa memandang, masyarakat lokal sekitar belum memanfaatkan dan mengelola kawasan karst, yang masih dianggap sakral dan sarat dengan mitos-mitos lokal.

Padahal jika ada proses transformasi kelimuan, yang bersumber dari riset dan penggalian pengetahuan lokal masyarakat.Maka pemanfaatan dan pengelolaan kawasan karst serta goa bisa dilakukan secara partisipatif dan berkelanjutan. Hingga saat ini menurut Mahapeka UIN Bandung, belum ada alternatif referensi atau rujukan yang cukup komprehensif terkini. Baik tentang Taniwel maupun tentang masyarakat dan kondisi sosial, budaya, serta lingkungannya.

Maka dari itu, mereka menyadari bahwa pada akhirnya ekspedisi ini bukan hanya upaya untuk mengenali dan menggali potensi kawasan karst saja. Tetapi juga upaya untuk mengenali dan menggali potensi dan pengetahuan lokal yang ada di masyarakat Taniwei.

Hasil penelitan baik tentang kawasan karst maupun tentang kondisi masyarakat nantinya akan menjadi pijakan awal, untuk melakukan proses pendampingan masyarakat dan pemerintah setempat. Selama ekspedisi 11 Maret – 1 April 2021 , akan dilangsungkan sedikitnya lima kegiatan secara umum, antara lain: Identifikasi potensi kawasan karst sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan kawasan karst yang lestari melalui proses pendataan dan pemetaan keberadaan gua. Identifikasi potensi masyarakat lokal negeri Lisabata melalui studi etnografi, terutama penggalian peran perempuan terhadap pengelolaan dan pemanfaatan potensi sosial, budaya serta lingkungan.

Merintis peta pendampingan komunitas lokal untuk menindaklanjuti rencana pengelolaan dan pemanfaatan potensi sosial, budaya serta lingkungan, terutama kawasan karst. Adanya proses edukasi, yaitu transfer knowledge dan penguatan kapasitas bagi pemerintah lokal dan kelompok masyarakat untuk mengelola dan memanfaatkan kawasan karst. Memberikan input pengembangan kawasan karst kepada pemerintah desa atau daerah yang berorientasi pada pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat lokal.

LEAVE A REPLY