PIRU- Kabupaten Seram Bagian Barat memiliki beraneka ragam  potensi pangan, karena pada umumnya masyarakat Seram bagian Barat berprofesi sebagai petani sehingga kebanyakan masyarakat Kabupaten Seram Bagian Barat mengkonsumsi hasil pertanian salah satunya ubi kayu sebagai makanan pokok mengantikan beras. Menggarap dan meggolah tanah, dan menanam ubi kayu untuk komsumsi sendiri adalah pekerjaan yang selalu dilakukan oleh masyarakat Petani di Kabupaten Seram Bagian Barat, dan jika kelebihan dijual kepasar tradisional.

Menurut hasil penelitian Prioritas nasional Masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia 2011 hingga 2025 (PENPRINAS MP3EI 2011-2025) yang merupakan kegiatan Direktorat Perguruan Tinggi yang dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Pattimura dan juga melibatkan Tim Peneliti BTPT Maluku, dengan topik  kajian keragaman genetik umbi-umbian utama di Seram Bagian Barat dan pemanfaatnya dalam industri yang merupakan bagian dari program pengembangan umbi-umbian untuk mendapatkan varietas/klon unggul asal Maluku yang berdaya hasil tinggi menerangkan, bahwa adaptif terhadap kondisi lingkungan budidaya di berbagai wilayah Maluku, berkualitas sesuai kebutuhan konsumen serta memiliki keunggulan sesuai kebutuhan industri. Selain itu, Rerata komoditas tanaman pangan di Kabupaten Seram Bagian Barat secara ekonomi layak diusahakan karena memiliki R/C>1 berdasarkan hasil analisa finansial R/C dari ubi kayu di Kabupaten Seram Bagian Barat berturut-turut 1,93 dan 1,30 secara biofisik dan ekonomi layak untuk diusahakan dan dikembangkan dimasyarakat dan dapat menjadi bahan baku bioetahanol.

Dimana, tujuan jangka panjangnya adalah percepatan pembangunan ekonomi melalui peningkatan produksi dan nilai tambah produk umbi-umbian dan memperkokoh ketahanan pangan. Tujuan jangka pendeknya adalah menentukan potensi sumberdaya genetik, kesiapan petani untuk pengembangan, potensi produksi dan ketersediaan lahan, serta mendapatkan varietas-varietas unggul sebagai sumber pangan dan bahan baku industri.

Sementara itu, para petani yang diwawancarai menyatakan bahwa masih ada kendala yang dihadapi petani dalam berusahatani tanaman pangan ubi kayu yaitu faktor iklim, hama babi hutan, tenaga kerja dan pemasaran. Upaya penerapan inovasi teknologi pada masyarakat terutama petani ladang berpindah umumnya dihambat oleh faktor-faktor biofisik, sosiologis dan tekno-ekonomi.

Penguasaan dan penerapan teknologi produksi ubi kayu sangat terbatas.  Hal ini ditunjukkan dengan masih rendahnya produktivitas ubi kayu.  Peningkatan produktivitas perlu dilakukan dengan upaya penyediaan bibit dan saprodi lain serta teknologi produksi spesifik lokasi.

LEAVE A REPLY